Saripati ilmu yang diekstrak dari berbagai buku bermutu di dunia

test

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 10 November 2018

Profil Goenawan Mohamad

Selepas jadi Pemimpin Redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993) dan 1998-1999, Goenawan nyaris jadi apa yang pernah ia tulis dalam sebuah esainya: transit lounger. Seorang yang berkeliling dari satu negara ke negara lain: mengajar, berceramah, menulis.

Sebagai penulis, Goenawan telah menulis sejumlah buku. Kumpulan esainya: Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).

Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).

Selain esai dan puisi, ia mulai terlibat dalam seni pertunjukan sejak akhir 1990-an. Untuk opera komponis Tony Prabowo dan Jarrad Powel, ia membuat libretto Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan The King's Witch (1997-2000). Kali pertama kali dipentaskan di teater On the Board, Seattle, Washington, Amerika Serikat pada 2001, dan versi pendeknya di Teater Salihara pada 2008 disutradarai Jay Subiakto. Kemudian The King's Witch (1997-2000) dipentaskan di Alice Tully Hall, New York (1999), dan Jakarta (2006) dengan sutradara Yudi Tajudin. Pada 2010 dan 2011 Tony dan Goenawan mementaskan Tan Malaka, sebuah "opera-esai". Sebagai sutradara, selain Tan Malaka, Goenawan juga menggarap  tari klasik Mangkunegaran, Dirodometo (2009). Lakon lain yang ditulis Goenawan adalah Visa (dipentaskan pertama kali oleh teater Lungid dalam bahasa Jawa, 2008) dan Surti dan Tiga Sawunggaling (2001) dengan sutradara Sitok Srengenge. Teks untuk wayang kulit, Wisanggeni, dipentaskan dengan dalang Sujiwo Tejo (1995), dan Alap-alapan Surtikanti dipentaskan pada 1994 di Jakarta dan kemudian di Denpasar, Yogyakarta, Surakarta, Melbourne, Seoul, Singapura, lalu kembali ke Jakarta pada 2011. Lakon terbarunya, Surat-Surat tentang Karna juga dipentaskan pada 2011 di Teater Salihara, Jakarta.

Sumber: Tentang penulis pada buku "Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot