Penulis: Sapardi Djoko Damono
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: PR Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-9841-9
E-ISBN: 978-602-06-2553-9
Kitab puisi ini berisi percakapan imajiner antara tokoh Gendis dengan obyek-obyek yang ada di sekitarnya. Mulai dari binatang, tanaman, benda-benda mati di sekelilingnya, hingga orang-orang yang ada dalam lingkaran kehidupannya. Bahkan kepada langit, juga bulan!
Selain itu juga kitab puisi ini berisi definisi-definisi abstrak tentang kata-kata yang mungkin paling banyak berputar di kepala.
Berikut ini puisi-puisi yang ada dalam kitab Sapardi kali ini.
- Percakapan di Luar Riuh Suara
- Pada Suaru Hari Sekitar Jam 4 Sore
- Hening Gendis
- Duduk di Teras Belakang Waktu Bulan Purnama
- Dongeng Kakek
- Apa Sebaiknya Aku Tak Bermimpi Lagi
- Siapa yang Sembunyi
- Aku Ingin Sungai Tanpa Kendali
- Ada Bintang Jatuh
- Menjenguk Wajah di Kolam
- Konon
- Memutar Kunci Pintu Rumah
- Langit-Langit
- Tak Perlu
- Selamat Tidur
Beberapa penggal puisi kami tampilkan di sini untuk dinikmati bersama.
Perihal Gendis
di rumah sendirian
ayahnya pamit pergi ke selatan
ibunya bilang menyusul ke utara
Lalu ada lagi puisi begini:
Sesungguhnya yang benar-benar aku inginkan darimu adalah ketulusan menerima apa saja yang kukatakan padamu dengan berbisik dengan gemetar dengan ragu-ragu dengan penuh keyakinan tentang hubungan kita yang sebentar dekat sebentar jauh sejenak tenang sejenak riuh yang kupahami tapi tak kaupahami yang kaupahami tapi tak kupahami.
Ada juga tentang Dongeng Kakek:
Arahkan pandangmu
ke ladang sana itu
Seorang kakek
sejak matahari terbit
sibuk dengan cangkulnya.
Sambil bernyanyi
hampir tak terdengar
di sela batuk-batuk kecil
ia mencangkul
mencangkul
mencangkul
mencangkul
mencangkul
mau mengubur
bayang-bayangnya
sendiri.
Aku bosan bersamamu,
bayang-bayang;
aku ingin sendiri.
Tolong katakan padaku kenapa gerangan
kakek itu mengayunkan cangkul
sambil bernyanyi?
PADA SUATU HARI SEKITAR JAM 4 SORE
Baru kali ini langit tampak serupa benar dengan mata,
meneteskan butir-butir air ke udara yang penat yang gerah
yang sumpek.
Gendis mendongak menatapnya, Kau menangis? Atau mengirim hujan ke pohonan di halaman yang sedang bercakap-cakap denganku sekedar untuk mengibaskan rasa bosan?
Langit tidak pernah mau menjawab pertanyaan serupa itu, terus saja meneteskan butir demi butir air yang kemudian berserakan di rumputan.
Gendis mendongak, Apakah kau Si Mata yang suka berkaca-kaca itu? Langit menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali pelahan semilirnya menyentuh bunga sepatu dan bunga kuning yang merambat di dinding halaman dan pipi Gendis.
Gendis bangkit melangkah ke rumputan basah memungut sebutir air yang warnanya berubah-ubah yang ditimangnya di telapak tangan, Ini bukan butir air.
Digenggamnya sambil kembali duduk di teras, dipandangnya butir air yang warnanya terus-menerus berubah-ubah di telapak tangannya itu. Ini air mata, ternyata. Yang bergerak-gerak di telapak tangan ini butir air, ternyata. Langit tak lain mata yang tak habis-habisnya berkaca-kaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar