Saripati ilmu yang diekstrak dari berbagai buku bermutu di dunia

test

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 10 November 2018

Cerdik Berbicara Cerdas Menguasai Suasana

Penulis: Jusra Chandra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei 2010 (Cetakan kedua)
Jumlah halaman: 156
ISBN: 978-979-22-4675-9


Kepiawaian bicara secara langsung mendukung kesuksesan kita di bidang apapun. Dengan amat menarik, buku ini memaparkan taktik dan seni berbicara, yang akan memudahkan Anda memenangi perkara dan menguasai suasana. Anda akan tahu bagaimana cara jitu menyampaikan:
  • kabar buruk dengan cara yang bijak,
  • fakta keras dengan cara yang lembut,
  • kerumitan dengan cara yang sederhana,
  • berita panas dengan cara yang dingin,
  • penolakan berat dengan cara yang ringan.

Bahkan, di buku ini juga disebutkan bagaimana merancang dan menangani gosip serta desas-desus, maupun dusta yang meyakinkan.

Buku ini terdiri atas 12 bab yang berisi contoh-contoh komunikasi sehari-hari yang sangat mungkin akan kita temui. Bukan sekadar contoh, penyampaian penulis dalam bentuk cerita bisa mengilhami kita bagaimana seharusnya kita berkomunikasi agar kita tidak mendapatkan manfaat terbesar atau terhindar dari kemungkinan kerugian.

Bab pertama, tentang kisah seorang yang akan membeli apartemen dalam judul 'Wanto tak membuka mulut'. Kutipan yang menarik di sini adalah bahwa orang yang belajar menulis semestinya terlebih dulu mempelajari "hal-hal yang tidak akan dia tulis." Orang yang belajar menyampaikan tutur kata semestinya terlebih dulu mempelajari "kapan seharusnya tidak bicara." Bicara itu perak, diam itu emas.

Bab kedua, kisah tentang keluarga yang akan membeli sebuah rumah dalam judul 'Hidup Ibu Mertua!' Ketika ular derik menggoyangkan ekornya, yang harus kamu perhatikan justru kepalanya. Inti pelajaran pada bab ini adalah mendengarkan yang tak dikatakan.

Bab ketiga, cerita 'Mimpi Kemenangan Pak Halim.' Melihat makanan saja langsung meneteskan air liur, bagaimana kamu bisa jadi pramusaji di restoran? Uraian di bab ini mengajarkan kita agar cerdas dengan bahasa tubuh.

Bab keempat, judulnya 'Dengarkan Aku Selesai Bicara Dulu!'. Simaklah percakapan berikut:
"Ja... ja... ja... ngan!" Si gagap berusaha mencegah temannya agar tidak menginjak kotoran anjing.
"Iya, apa?" tanya temannya.
"U... udah telat!" jawab si gagap.
Di bagian ini penulis menjelaskan kita teknik berbicara dengan cara terbalik.

Bab kelima, berjudul "Sepatah kata membuat Anda Sukses". Ada masakan yang harus dimasak dengan api besar, ada masakan yang harus dimasak dengan api kecil. Ada perkataan yang harus disampaikan dengan langsung, ada perkataan yang harus disampaikan dengan tidak langsung. Di bagian ini penulis memaparkan teknik komunikasi mengenai bukan apanya, tetapi caranya.

Bab keenam, berjudul "Mari Kuberitahu kamu peluang usaha yang bagus."
Pada bab ini, penulis menjabarkan teknik bicara untuk menarik orang lain.

Bab ketujuh, berjudul "Siapa sebetulnya teman lama?" Biasanya jarang bersuara, jika bersuara hasil baik yang didapat. Selalu banyak bicara, kesalahan yang diperoleh. Ada sebuah nilai yang dibagikan kepada pembaca pada bab ini, yaitu nilai kelangkaan dan kemendesakan.

Bab kedelapan, judulnya "rencana om senang". Di bagian ini pembaca dibocori rahasia bagaimana merancang dan menangani desas-desus. Namun, saya pribadi kurang sreg dengan pembahasan di bagian ini. Seperti ada rasa kurang nyaman jika terpaksa harus diterapkan.

Bab kesembilan, berjudul "Lima Kesalahpahaman" yang intinya bahwa bukan niat yang penting, tetapi kesan yang ditimbulkan.

Bab kesepuluh menampilkan judul yang agak kurang senonoh, "Penari Bugil." Cerita yang diangkat pada bab ini mengajarkan pembaca bagaimana menyisakan jalan keluar dalam konteks berbicara.

Bab kesebelas berjudul "Siapakah Perempuan Itu?" mengajari kita tekni maju untuk mundur. Melangkahlah mundur untuk sementara jika musuhmu kuat. Seranglah pada saat kekuatan musuh tidak siap siaga. Sisakan jalan mundur untuk musuh, maka kamu akan meninggalkan arena perang dengan gagah dan tenang.

Bab kedua belas, berjudul "Sepuluh Orang Pintar." mengetengahkan kisah-kisah bagaimana cara orang-orang berkomunikasi sehingga bisa menghasilkan perubahan yang sangat nyata. Salah satu yang mengharukan adalah bagaimana seorang ibu yang melahirkan anak tanpa tangan dan kaki dan menanggapi bayinya tersebut.

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca untuk membuka wawasan tentang bagaimana komunikasi yang baik dengan mempertimbangkan berbagai situasi dan kondisi, meliputi waktu, tempat, dengan siapa, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot