Penulis: Ratih Puspita
Desain: Lanang Perkasa
Kalibrasi: Amongkarta
Penerbit: Kerjasama penerbitan buku digital oleh AMONGKARTA dan Lini+ book
Jumlah halaman: 40 halaman
ISBN: 978-623-208-415-5
Buku ini ringkas. Memang, halamannya empat puluh. Tapi itu tak akan membuat Anda berpeluh karena membacanya. Cukup sekali duduk, satu gantang ilmu tentang pergaulan bisa kita dapatkan.
Judulnya sederhana. Begitu pula isinya. Tetapi, tetap saja ada manfaat yang bisa kita dapat ketika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat bahwa kita adalah makhluk sosial yang belakangan ternyata sudah menjadi semakin asosial. Salah satunya karena kurangnya sopan-santun dan menempatkan diri dalam pergaulan.
Khawatirnya, jika kita semakin tidak dapat menempatkan diri, kita akan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan bahkan parahnya kita dikucilkan. Oleh karena itu, buku ini sedikit memberikan pencerahan, agar kita lebih "dianggap" dalam pergaulan.
Sayangnya, cakupannya terlalu sempit untuk dianggap sebagai buku. Cetakan font yang luar biasa besar hingga memakan halaman yang empat puluh tadi, sebenarnya bisa dibaca dalam hitungan menit. Topik utamanya adalah tentang bagaimana supaya kita tidak dianggap ingusan. Kalau ingusan, ada kecenderungan dikucilkan? Begitukah?
Ya, barangkali. Menurut si penulis.
Jadi, berikut adalah alasan mengapa seorang mahasiswa disebut sebagai bocah ingusan:
- Selalu pilek dan ingusan
- Tidak punya rencana dalam hidup
- Enggak paham artinya tepat waktu
- Tidak punya pendirian
- Keseringan bilang maaf
- Menganggap dirinya selalu benar dan serba tahu
- Berusaha menjadi orang lain yang sebenarnya bukan dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar