Saripati ilmu yang diekstrak dari berbagai buku bermutu di dunia

test

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Minggu, 10 Mei 2020

Pemulihan Jiwa 7

Penulis: Dedy Susanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-03-2513-2
EISBN: 978-602-03-8941-7

“Ya Tuhan, mudahkanlah ikhlasku semudah napasku. Amin”
Buku ini ditulis oleh seorang psikolog yang sudah terkenal di seantero negeri ini, Dedy Susanto. Kliennya sudah banyak sekali, trainingnya juga ada di berbagai kota. Sebagai seorang psikolog, kiprahnya luar biasa dalam berbagai kesempatan dan cara. Bahkan dia juga membuat upaya pencerahannya dalam bentuk buku yang berjilid-jilid. Salah satunya adalah buku ini, “Pemulihan Jiwa 7”.

Buku ini sarat dengan kata-kata afirmatif tentunya setelah menengok masalah-masalah apa yang mungkin saja terjadi pada para pembacanya. Banyak di bagian buku ini yang merupakan permintaan penulis bagi para pembaca untuk mengucapkan kata-kata yang ditulis sebagai bentuk terapi pemulihan jiwa.


Di bagian pertama, tentang blueprint dan doktrin, isinya cukup menyentak. Perbedaan antara blueprint dan doktrin juga dipaparkan dengan gamblang. Blueprint itu bawaan kita dari Tuhan, bahwa kita ini ciptaan yang hebat, sempurna sedangkan doktrin adalah hasil dari pelabelan terhadap diri kita yang merasuk ke alam pikiran bawah sadar. Pelabelan yang seringkali bernada negatif ini yang kemudian tanpa kita sadari membentuk jiwa kita. Seharusnya, untuk doktrin semacam itu harus kita buang, kembali kita mesti melihat blueprint pada diri kita. Benar juga ya…

Ada juga permisalan yang bagus dan sangat mudah diterima. Mengenai rumah, kulkas, atau juga ranjang tempat kita tidur. Tidak mungkin bukan kita membawa kulkas ketika kita keluar rumah. Demikian pula dengan ranjang tempat tidur. Karena memang kita tidak memerlukannya. Demikian juga masalah atau beban hidup kita. Pada saat kita mengerjakan suatu urusan yang tidak ada kaitannya dengan masalah atau beban tadi, lepaskanlah. Dengan begitu kita bisa lebih fokus mengerjakan urusan hingga tuntas. Masalah yang merupakan beban jangan dibawa-bawa terus, ada kalanya diletakkan. Kita mungkin bisa mengangkatnya, tetapi tidak mungkin bisa terus 24 jam sehari semalam. Jangan sampai juga terbawa mimpi karena terus saja dipikirkan ketika hendak tidur.

Permisalan lain juga sangat bagus, yakni handphone dengan sinyal. Ketika kita di daerah yang susah sinyal, biasanya baterai handphone juga cepat habis. Demikian pula kita, ketika kita merasa susah untuk bahagia, sangat mungkin jiwa kita akan cepat merasa lelah. Langsung atau tidak, fisik kita juga cepat merasa lelah. Makanya kadang kita juga perlu berada di dekat orang-orang yang bisa memberikan kita motivasi, orang-orang yang memberi kita rasa nyaman.

Lebih lanjut di buku ini, penulis memberikan alternatif pemulihan jiwa dengan pendekatan pengelolaan pikiran. Sebagai misal, jika ada orang yang mengecewakan kita atau bahkan menyakiti kita, maka terimalah itu sebagai salah satu cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Tuhan telah mengirim orang yang mengecewakan kita itu untuk membantu proses pendewasaan diri kita. Kalaupuna bukan melalui dia, Tuhan pasti mengirim orang yang lain untuk membantu kita lebih dewasa.

Di bagian lain, penulis juga menyampaikan bagaimana kita harus memandang suatu masalah. Pada dasarnya, semua masalah itu kecil, apapun bentuknya. Percayalah bahwa kita punya Tuhan yang maha besar, yang akan membantu kita menyadari bahwa masalah itu sangat kecil sekali di hadapan Tuhan.

Namun, ada satu kalimat yang menurut kami perlu diperhatikan oleh para pembaca. Terlebih bagi pembaca muslim yang mungkin menerima sebuah kalimat secara tekstual atau leterleg. Kalimat tersebut adalah “Tuhan Mahabesar, saya adalah milik Tuhan, dan saya percaya Tuhan ada di dalam diri saya sehingga saya merasakan bahwa masalah saya dan persoalan hidup saya itu kecil adanya.” Kalimat ini dapat dijumpai di halaman 130. Yang perlu digarisbawahi adalah “Tuhan ada di dalam diri saya”. Secara tekstual, tentu tidak mungkin Tuhan ada dalam diri sesorang. Kalau seperti ini justru mengarah ke ajaran manunggaling kawula dan gusti. Mungkin yang dimaksud di sini adalah Tuhan selalu mengetahui keberadaan kita, selalu ada untuk kita.

Secara keseluruhan, buku ini memang bisa memberikan pencerahan terutama untuk mereka-mereka yang jiwanya memang sedang merasakan keterpurukan. Nasihat-nasihat kejiwaannya sangat mudah dipahami. Selamat membaca…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot