Saripati ilmu yang diekstrak dari berbagai buku bermutu di dunia

test

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 10 November 2018

Ayah Edy, Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?

Ayah Edy, Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?
37 Kebiasaan Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak

Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
Tahun Terbit: 2008


Buku yang ditulis oleh pakar parenting, Edy Wiyono, yang biasa disapa Ayah Edy, memaparkan sedikitnya 37 kebiasaan orang tua dalam mendidik anak yang keliru. Kebiasaan-kebiasaan tersebut tanpa disadari orang tua telah membuat anak-anaknya berperangai yang suka melawan dan sulit diatur. Parahnya, jika orang tua tidak segera menyadari dan mengubah kebiasaan tersebut, proses perbaikan perilaku pada anak akan menjadi lebih sulit. Ibaratnya pohon, semakin tua usianya semakin sulit batangnya untuk dibengkokkan.

Buku ini dibuka dengan kutipan dari Kahlil Gibran. "Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra kerinduan diri Sang Hidup. Melaluimu mereka ada, namun bukan darimu. Meskipun bersamamu, mereka bukan milikmu."

Selanjutnya, Ayah Edy memaparkan sebanyak 37 kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua yang sangat mempengaruhi perilaku anak.

1. Raja yang tak pernah salah. Mungkin sering dulu ketika anaknya menabrak kursi dan menangis, orang tuanya menghibur dengan menyalahkan kursinya. "Siapa yang nakal ya, ini sudah mama pukul kursinya... sudah cup, cup, diem ya..." Hingga akhirnya anak diam. Harusnya yang dikatakan adalah, "Sayang, kamu terbentur ya? Lain kali hati-hati ya.."

2. Berbohong kecil dan sering. Mungkin ini kebiasaan yang sering kita lakukan. Misalnya ketika kita akan pergi ke suatu tempat, kemudian anak merengek minta ikut. Lalu kita katakan, "Ayah hanya sebentar kok. Sebentar ya sayang.." Ternyata pulangnya malam. Yang harusnya kita lakukan adalah memberi pengertian pada anak, misalnya "Sayang, ayah mau ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalau ayah pergi ke kebun binatang, kamu bisa ikut..."

3. Banyak mengancam. Kalimat-kalimat ancaman kepada anak sebaiknya tidak dilontarkan. Contohnya, "Jangan ganggu adik, nanti ayah marah!"

Seorang anak sangat pandai mempelajari pola orang tuanya. Lebih dari itu, anak bahkan dapat mengendalikan pola orang tuanya. Terlebih jika kita sering mengancam lalu tidak ada tindak lanjut.

Sebenarnya kita tidak perlu berteriak-teriak kepada anak. Dekati, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita kepada anak. Tatap matanya dengan lembut, tetapi ekspresikan dengan ekspresi tidak senang atas tindakan mereka. Bisa dipertegas dengan kata-kata, "Ayah mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan pada adikmu. Ayah akan makin sayang padamu."

4. Bicara tidak tepat sasaran. Kadang kita mengatakan kepada anak, "Ayah tidak suka kamu begitu!" Tetapi kita tidak menjelaskan mengapa itu tidak baik. Akhirnya anak-anak akan mencari hal lain yang justru seperti sengaja membuat orang tuanya kesal. Intinya, kita harus mengkomunikasikan perilaku yang kita inginkan. Jangan lupa untuk mengucapkan terimakasih dengan tulus dan penuh sayang atas usaha anak untuk berubah.

5. Menekankan pada hal-hal yang salah. Kita hanya memberi perhatian jika anak-anak melakukan kesalahan. Jika anak-anak melakukan kebaikan atau menghindari kesalahan, kita jarang memujinya. Sebaiknya, berilah perhatian dan pujian, misalnya ketika anak bermain bareng, belajar sendiri, dan kegiatan-kegiatan lain.

6. Merendahkan diri sendiri. Maksudnya, orang tua mengancam melalui sosok orang lain, misalnya ayah mengancam anaknya dengan embel-embel nanti dimarahi ibunya. Akibatnya, si anak hanya takut pada ibunya, sama sekali tidak pada ayahnya. Sebaiknya, kita beri ketegasan kepada mereka. Misalnya, "Sayang, ayah ingin kamu mandi. Mandi sekarang atau lima menit lagi?" Jika jawabnya lima menit lagi, orang tua harus tegas dan konsekuen tidak bisa ditawar lagi: lima menit harus sudah mandi.

7. Papa dan mama tidak kompak.

8. Campur tangan kakek, nenek, tanta, atau pihak lain

9. Menakuti anak. Orang tua sering kali menakut-nakuti anaknya melalui sosok orang lain, seperti jika ditangkap polisi, disuntuk dokter, dan sebagainya. Hal tersebut justru menanamkan citra negatif untuk orang atau profesi yang kita catut namanya. Yang seharusnya kita lakukan adalah memberi penjelasan kepada anak, bahwa yang dilakukannya itu bisa menimbulkan hal tidak baik. Misalnya nanti bisa sakit, dan sebagainya

10. Ucapan dan tindakan tidak sesuai. Anak memiliki ingatan yang tajam. Segala janji kita mereka rekam, oleh karena itu kita sebagai orang tua harus konsisten atas yang kita ucapkan.

11. Hadiah untuk perilaku buruk anak. Hal ini biasanya terjadi ketika orang tua dan anak berada di tempat umum. Misalnya anaknya merengek (anak berperilaku kurang baik), justru orang tuanya menuruti permintaannya. Di sini butuh ketegasan orang tua. Sesekali perlu bagi orang tua untuk cuek terhadap orang di sekelilingnya.

12. Merasa salah karena tidak bisa memberikan yang terbaik. Mungkin ada yang pernah mengatakan, "Biarlah anakku seperti itu, mungkin karena saya yang juga jarang bertemu dengannya..." Hal tersebut tidak benar, justru kita harus membuat momen yang berkualitas dengan hanya sedikitnya waktu kebersamaan. Singkirkan distraksi-distraksi yang ada, manfaatkan waktu untuk anak dengan maksimal.

13. Mudah menyerah dan pasrah. Jangan sampai muncul di benak orang tua rasa menyerah untuk mendidik anak. Kita harus belajar keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, meningkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Jika kita menyerah, kepada siapa tugas mulia mendidik anak akan kita limpahkan? Ingatlah, ini adalah kesempatan emas yang kita miliki.

14. Marah yang berlebihan. Kita tidak perlu marah kepada anak. Yang perlu adalah bicara tegas, bukan bicara keras. Tegas berarti bicara datar, serius, dengan menatap wajah dan mata si anak dalam-dalam.

15. Gengsi untuk menyapa. Karena marah pada anak, mungkin ada orang tua yang tidak menyapa anaknya. Ajaklah kembali anak untuk bicara, kalau perlu mintalah maaf atas apa yang telah terjadi antara orang tua dan anak.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya. Karena dianggap masih anak-anak, kadang orang tua memaklumi begitu saja. "Maklum, masih anak-anak..," begitu kurang lebih permaklumannya. Padahal seharusnya yang kita lakukan adalah mengajaknya berkomunikasi, meluruskan anak dengan cara yang tegas.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya

18. Mengharap perubahan instan

19. Pendengar yang buruk. Kita harus mendengarkan anak menyampaikan argumennya. Jangan langsung mengomel dan memarahi atas kesalahan anak. Jangan juga memotong setiap kali ia bicara, malah ia nanti tidak mau bicara dan marah kepada kita. Tahanlah untuk tidak berkomentar, hingga saatnya ia bertanya, "Menurut ayah, bagaimana?"

20. Selalu menuruti permintaan anak. Kita harus mengajari anak mana yang baik dan buruk, boleh tidak boleh, benar tidak benar, perlu dan tidak perlu.

21. Terlalu banyak larangan. Gunakan kesepakatan-kesepakatan untuk memberi batasan yang lebih baik.

22. Terlalu cepat menyimpulkan. Kita harus mendengarkan alasan anak atas apa yang sudah ia lakukan dan itu salah menurut orang tua.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu. Berilah pujian dan nasihat dengan ungkapan seperti, "Kamu memang anak ayah yang luar biasa. Ayah bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian yang kamu alami."

24. Suka membandingkan. Tidak bagus membandingkan anak dengan orang lain. Sebaiknya, bandingkanlah dirinya di masa lalu saat berperilaku baik dengan dirinya di saat sekarang.

25. Paling benar dan paling tahu segalanya.

26. Saling melempar tanggung jawab. Antara ayah dan ibu harus saling bekerja sama dan merenungkan, "Apa peran yang sudah saya berikan dalam proses pendidikan anak-anak selama ini?"

27. Kakak harus selalu mengalah. Antara kakak dan adik kadang ada perselisihan. Orang tua harus mampu menunjukkan mana yang benar dan salah dari apa yang mereka perbuat. Damaikanlah segera, jelaskan nilai-nilai yang harus mereka taati bersama.

28. Menghukum secara fisik. Cari jalan lain selain dengan menghukum fisik. Lakukan dialog. Jika tidak berhasil, evaluasilah diri kita. Temukan kebiasaan keliru yang selama ini kita lakukan berulang sehingga anak berbuat seperti itu.

29. Menunda atau membatalkan hukuman. Orang tua harus tegas untuk melaksanakan hukuman.

30. Terpancing emosi.

31. Menghukum anak saat kita marah.

32. Mengejek. Orang tua tidak boleh mengejek anaknya sendiri karena justru membuat si anak tidak menghargai orang tuanya.

33. Menyindir. Hal ini bisa-bisa membuat anak menjaga jarak dengan orang tua dan bahkan membuat mereka menjadi-jadi dalam hal yang kurang disenangi orang tuanya. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua menyampaikan langsung nasihatnya.

34. Memberi julukan yang buruk

35. Mengumpan anak yang rewel. Maksudnya, kadang kita sebagai orang tua langsung mengalihkan perhatian si anak ketika anak kita rewel. Semisal anak mengingingkan sesuatu lalu merengek, kadang kita langsung mengalihkannya dengan berkata, "Lihat tuh ada kakak pakai baju warna apa tuh..," dan sebagainya. Sebaiknya kita tetap sambut permintaan anak dengan komunikasi yang lebih baik. Contohnya, "Saat ini ayah belum bisa membelikan mainan itu. Jika kamu mau, harus menabung dulu. Nanti ayah ajari cara menabung. Jika kamu terus merengek, kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang."

36. Televisi sebagai agen pendidik anak. Sebagai alternatif, kita harus membangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi pembentuk perilaku anak (berdasar siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya, yang lebih dia percaya, yang lebih menyenangkan penyampaiannya, dan yang lebih sering menemaninya). Di Amerika, lebih dari 30% penduduk memilih untuk tidak menonton program TV di rumahnya dan menggantinya dengan kegiatan di dalam/luar rumah yang padat bagi anak-anaknya.

37. Mengajari anak untuk membalas. Jauh lebih baik kita mengajari anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti. Sampaikan ke orang tua anak yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakukan buruk dari anaknya. Ajaklah orang tua anak yang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot